Selasa, 09 Juni 2015

CERITA PLANET CINTA ( PART 5 )

Selepas kedatangan dari Sang Venus . . . . . . . .

Radyhin yang merupakan sahabat lamanya Mars, merasa tidak terlalu andil dalam kehidupan cinta sahabat karibnya itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri karna sama sekali tidak tahu apa yang Mars butuhkan dan apa yang Mars rasakan. Dia selalu kagum kepada Matahari, dari kesetiaan seorang laki-laki terhadap wanita yang sudah menyakitinya, dari kesiagaan melakukan apa pun untuk wanita berunung itu, sampai pada keikhlasan luar biasa yang Matahari miliki untuk kebahagiaan seorang Mars.

Saat Matahari pergi meninggalkan kamar Mars yang di dalamnya sudah ada Venus sebagai pengganti dirinya, Matahari hanya diam seribu bahasa saat menuruni anak tangga dan pantang baginya untuk sakit hati, apalagi menangis karna kenyataannya bukan dialah pelipur lara bagi wanita pujaannya, yah walau setidaknya dulu pernah dia rasakan.

Tanpa Matahari sadari, dibalik kebisuannya ada seorang wanita lain yang tak pernah berpaling menatap punggungnya. Yah, Radhyin lah wanita tersebut. Radhyn sudah lama sekali mengagumi sosok Matahari, tapi dia selalu terbatas dengan perasaan tidak enak terhadap sahabatnya, Mars. Sampai pada Matahari masuk ke dalam mobilnya pun, Radhyn masih setia mengintipnya dibalik jendela.

Radhyn yang asik dengan lamunannya yang menatap mobil Freed milik Matahari, tidak sadar kalau Matahari pun tengah memperhatikannya. Secara mendadak, muncullah kejadian 1,5 bulan lalu dengan lancang mengganggu pikiran Matahari.

1,5 Bulan Lalu . . . . . . . . . . . . 

Ketika Mars menemui Matahari dengan tiba-tiba di kantornya,  Matahari terlihat sangat kaget. Melihat ekspresi mantan kekasihnya itu, Mars nyeletuk sesuka hati dia, "Woyyy, pura-pura aja loe. Sok-sokan kaget, padahal seneng pake banget tuch, aku tiba-tiba ada disini, hahahahahaha." sambil memposisikan badannya duduk di kursi yang Matahari duduki. "Hmmmmm. Kamu ngapain sayang kesini, kangen ya sama aku, sampe segitunya. Padahal kan bisa aku jemput." sambil mendekatkan muka Matahari ke muka Mars. Seketika Mars sudah siap dengan kuda-kudanya karna dia sudah hapal kelakuan iseng mantannya satu ini. "Eeeeiiitttss. Ga boleh main api gitu dong, liat nich, udah ada yang punya loooohhhh." sambil menujukan cincin yang sudah melingkar dijari manis Mars.

Mendadak Matahari lemas dan berbalik badan, membanting badannya ke sofa yang tersedia di ruang kantornya. "Jadi juga loe tunangan sama tu orang. Hufftttt. Mendadak pening nich pala gue." ujar Matahari sambil memegang keningnya dan mengintip sedikit ke arah Mars. "Wait. Wait. Wait. Kena loe? ko gitu sih? kan gue udah curhat tiap malem sama loe. Payah ah, masa ga bisa sich move on dari cuma sekedar seorang Mars?" sambil mengelitik pinggang Matahari dan menarik tangan yang menutupi mukanya. sambil kegelian Matahari mengunci tangan Mars dan membenahi posisi duduknya, yang semula setengah tiduran menjadi duduk tegap dan setengah bersila menghadap Mars. "Justru karna 'sekedar seorang Mars', makanya bertahun-tahun gue ga punya cewe." katanya sambil menatap lekat muka mantan kekasihnya itu. Tiba - tiba sambil berbalik karna tak tahan menatap Mars lebih dalam, Matahari pun menghela nafas panjang seraya berkata, "Ada ga sich cewe kaya loe lagi, atau kloningan loe dech juga ga papa." Sambil mendekat, Mars menyandarkan dagunya ke pundak Matahari, sambil memeluknya setengah dari belakang, "Ko loe ngomong gitu sich, emang ga mau cari yang beda gitu? Kan gue ga sesempurna itu Ri. Loe pasti banyak yang mau ko Ri. Loe kan ganteng, baik, sukses, terus setia lagi. Cewe mana coba yang ga klepek - klepek sama loe?" ujar Mars panjang lebar. Tiba - tiba suasana hening pun muncul diantara mereka, masing - masing asyik sendiri dengan pikirannya, walau entah apa yang dipikirkan.

Matahari yang sedang bernostalgia dengan kenangannya bersama Mars. Tiba - tiba dikagetkan dengan terikan Mars di kupingnya, sambil memegang pipi Matahari dan berkata, "Gue tau Ri, siapa yang cocok buat loe." Sambil mengernyitkan jidatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. " Radhyn Ri Radhyn, asli dia cocok banget sama loe. Gue kenal banget sama dia. Kan dia sah........." tiba - tiba celotehan Mars pun berhenti, melihat Matahari beranjak dari tatapannya. "Loe gila ya Mars, masa gue sama dia. Dia kan sahabat loe, loe tega ngasih bekasan loe ke sahabat loe sendiri." kata Matahari sambil menatap keluar jendela. Mars pun membalas, "Ya ga gitu Ri, ga secara serta merta gue bilang ke dia apalagi nyuruh dia sama loe. Gue berani rekomendasiin dia, karna gue tau loe cowo baik-baik, dia pun kalo guw liat - liat suka merhatiin loe kok." sambil memeluk Matahri dari belakang. "gue cuma mau loe dan sahabat gue bahagia, gue ga muna kalo gue kadang ga suka liat loe deket dan gonta ganti cewe." Matahari melepaskan pelukan Mars dan memegang dagu gadis itu, "Kamu yakin sama pilihan kamu buat aku? Kamu siap tanggung jawab kalo dia ternyata nyakitin aku juga? Hati ini udah hancur sama kamu, kamu ga berniat mainin aku kan lewat sahabat kamu itu?" kata Matahari yang perlahan mencium bibir Mars dengan lembut. Entah kenapa kali ini Mars diam saja dan menikmatinya. "Itu DP dari tanggung jawab kamu ke aku, aku akan pikirin baik - baik saran dari kamu, ketika tiba saatnya nanti aku menerima saran dari kamu, aku akan tembak Radhyn. Tapi kalo ternyata suatu saat dia nyakitin aku, kamu harus bayar full tanggung jawab kamu ke aku."

45 Menit melamun . . . . . . .

Tiba - tiba Matahari tersentak kaget dengan ketukan yang keras dari kaca mobilnya disamping. Ternyata itu ulah Radhyn. Matahari pun membuka pintu dan keluar dari mobil. "Kenapa lagi Radhyn sayank?" godanya sambil memegang dagu sahabat mantannya itu. Radhyn yang awalnya tersipu malu, cepat-cepat melepaskan tangan Matahari dari dagunya, "Idiiiihhh genitnya. Gue yang harusnya tanya, loe kenapa di dalem mobil nglamun lama banget, ga jalan-jalan? Aman - aman aja kan loe? Apa loe ngantuk? Loe sakit? Atau jangan - ja......." Matahari bergegas memeluk dengan erat Radhyn, "Dhyn, anterin gue ya? Mau kan? Lagi kacau nich." Radhyn yang diam mematung, tanpa sadar berbalik memeluk dan sambil memegang kening pujaan hatinya, "Loe demam ya Ri, jangan pingsan disini ya Ri. Tar gue bingung." Perlahan Radhyn menuntun Matahari ke kursi penumpang persis disamping kemudi. Dia langsung lari kencang ke rumah, dan berpamitan dengan Mars yang sedang disuapi bubur oleh Venus. "Mars, Gu...e anter Mata...hari du...lu ya? Dia agak pana..ss badannya." tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya, Radhyn pun langsung ngacir ke bawah.

Tidak lama setelah itu, HP Mars berbunyi dan ternyata sms dari Matahari :
" Aku tau kamu pasti khawatir, makanya aku sms. Aku baik - baik aja. Aku mau coba dekat dengan Radhyn, sesuai pesan dari kamu. Kamu baik - baik ya, karna ketika aku sudah sama Radhyn, aku ga akan mungkin sesiaga kemarin - kemarin sama kamu. Salam buat Venus. By the way, besok aku ijin nonjok Merkurius ya di kantornya."

Mars tersenyum manis dan hampir tersedak bubur yang masih penuh di mulutnya. Melihat itu, Venus yang sangat merindukan Mars, tiba - tiba memeluknya dengan erat dan hampir membuat Mars kebingungan.


Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar