Selasa, 09 Juni 2015

CERITA PLANET CINTA ( PART 5 )

Selepas kedatangan dari Sang Venus . . . . . . . .

Radyhin yang merupakan sahabat lamanya Mars, merasa tidak terlalu andil dalam kehidupan cinta sahabat karibnya itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri karna sama sekali tidak tahu apa yang Mars butuhkan dan apa yang Mars rasakan. Dia selalu kagum kepada Matahari, dari kesetiaan seorang laki-laki terhadap wanita yang sudah menyakitinya, dari kesiagaan melakukan apa pun untuk wanita berunung itu, sampai pada keikhlasan luar biasa yang Matahari miliki untuk kebahagiaan seorang Mars.

Saat Matahari pergi meninggalkan kamar Mars yang di dalamnya sudah ada Venus sebagai pengganti dirinya, Matahari hanya diam seribu bahasa saat menuruni anak tangga dan pantang baginya untuk sakit hati, apalagi menangis karna kenyataannya bukan dialah pelipur lara bagi wanita pujaannya, yah walau setidaknya dulu pernah dia rasakan.

Tanpa Matahari sadari, dibalik kebisuannya ada seorang wanita lain yang tak pernah berpaling menatap punggungnya. Yah, Radhyin lah wanita tersebut. Radhyn sudah lama sekali mengagumi sosok Matahari, tapi dia selalu terbatas dengan perasaan tidak enak terhadap sahabatnya, Mars. Sampai pada Matahari masuk ke dalam mobilnya pun, Radhyn masih setia mengintipnya dibalik jendela.

Radhyn yang asik dengan lamunannya yang menatap mobil Freed milik Matahari, tidak sadar kalau Matahari pun tengah memperhatikannya. Secara mendadak, muncullah kejadian 1,5 bulan lalu dengan lancang mengganggu pikiran Matahari.

1,5 Bulan Lalu . . . . . . . . . . . . 

Ketika Mars menemui Matahari dengan tiba-tiba di kantornya,  Matahari terlihat sangat kaget. Melihat ekspresi mantan kekasihnya itu, Mars nyeletuk sesuka hati dia, "Woyyy, pura-pura aja loe. Sok-sokan kaget, padahal seneng pake banget tuch, aku tiba-tiba ada disini, hahahahahaha." sambil memposisikan badannya duduk di kursi yang Matahari duduki. "Hmmmmm. Kamu ngapain sayang kesini, kangen ya sama aku, sampe segitunya. Padahal kan bisa aku jemput." sambil mendekatkan muka Matahari ke muka Mars. Seketika Mars sudah siap dengan kuda-kudanya karna dia sudah hapal kelakuan iseng mantannya satu ini. "Eeeeiiitttss. Ga boleh main api gitu dong, liat nich, udah ada yang punya loooohhhh." sambil menujukan cincin yang sudah melingkar dijari manis Mars.

Mendadak Matahari lemas dan berbalik badan, membanting badannya ke sofa yang tersedia di ruang kantornya. "Jadi juga loe tunangan sama tu orang. Hufftttt. Mendadak pening nich pala gue." ujar Matahari sambil memegang keningnya dan mengintip sedikit ke arah Mars. "Wait. Wait. Wait. Kena loe? ko gitu sih? kan gue udah curhat tiap malem sama loe. Payah ah, masa ga bisa sich move on dari cuma sekedar seorang Mars?" sambil mengelitik pinggang Matahari dan menarik tangan yang menutupi mukanya. sambil kegelian Matahari mengunci tangan Mars dan membenahi posisi duduknya, yang semula setengah tiduran menjadi duduk tegap dan setengah bersila menghadap Mars. "Justru karna 'sekedar seorang Mars', makanya bertahun-tahun gue ga punya cewe." katanya sambil menatap lekat muka mantan kekasihnya itu. Tiba - tiba sambil berbalik karna tak tahan menatap Mars lebih dalam, Matahari pun menghela nafas panjang seraya berkata, "Ada ga sich cewe kaya loe lagi, atau kloningan loe dech juga ga papa." Sambil mendekat, Mars menyandarkan dagunya ke pundak Matahari, sambil memeluknya setengah dari belakang, "Ko loe ngomong gitu sich, emang ga mau cari yang beda gitu? Kan gue ga sesempurna itu Ri. Loe pasti banyak yang mau ko Ri. Loe kan ganteng, baik, sukses, terus setia lagi. Cewe mana coba yang ga klepek - klepek sama loe?" ujar Mars panjang lebar. Tiba - tiba suasana hening pun muncul diantara mereka, masing - masing asyik sendiri dengan pikirannya, walau entah apa yang dipikirkan.

Matahari yang sedang bernostalgia dengan kenangannya bersama Mars. Tiba - tiba dikagetkan dengan terikan Mars di kupingnya, sambil memegang pipi Matahari dan berkata, "Gue tau Ri, siapa yang cocok buat loe." Sambil mengernyitkan jidatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. " Radhyn Ri Radhyn, asli dia cocok banget sama loe. Gue kenal banget sama dia. Kan dia sah........." tiba - tiba celotehan Mars pun berhenti, melihat Matahari beranjak dari tatapannya. "Loe gila ya Mars, masa gue sama dia. Dia kan sahabat loe, loe tega ngasih bekasan loe ke sahabat loe sendiri." kata Matahari sambil menatap keluar jendela. Mars pun membalas, "Ya ga gitu Ri, ga secara serta merta gue bilang ke dia apalagi nyuruh dia sama loe. Gue berani rekomendasiin dia, karna gue tau loe cowo baik-baik, dia pun kalo guw liat - liat suka merhatiin loe kok." sambil memeluk Matahri dari belakang. "gue cuma mau loe dan sahabat gue bahagia, gue ga muna kalo gue kadang ga suka liat loe deket dan gonta ganti cewe." Matahari melepaskan pelukan Mars dan memegang dagu gadis itu, "Kamu yakin sama pilihan kamu buat aku? Kamu siap tanggung jawab kalo dia ternyata nyakitin aku juga? Hati ini udah hancur sama kamu, kamu ga berniat mainin aku kan lewat sahabat kamu itu?" kata Matahari yang perlahan mencium bibir Mars dengan lembut. Entah kenapa kali ini Mars diam saja dan menikmatinya. "Itu DP dari tanggung jawab kamu ke aku, aku akan pikirin baik - baik saran dari kamu, ketika tiba saatnya nanti aku menerima saran dari kamu, aku akan tembak Radhyn. Tapi kalo ternyata suatu saat dia nyakitin aku, kamu harus bayar full tanggung jawab kamu ke aku."

45 Menit melamun . . . . . . .

Tiba - tiba Matahari tersentak kaget dengan ketukan yang keras dari kaca mobilnya disamping. Ternyata itu ulah Radhyn. Matahari pun membuka pintu dan keluar dari mobil. "Kenapa lagi Radhyn sayank?" godanya sambil memegang dagu sahabat mantannya itu. Radhyn yang awalnya tersipu malu, cepat-cepat melepaskan tangan Matahari dari dagunya, "Idiiiihhh genitnya. Gue yang harusnya tanya, loe kenapa di dalem mobil nglamun lama banget, ga jalan-jalan? Aman - aman aja kan loe? Apa loe ngantuk? Loe sakit? Atau jangan - ja......." Matahari bergegas memeluk dengan erat Radhyn, "Dhyn, anterin gue ya? Mau kan? Lagi kacau nich." Radhyn yang diam mematung, tanpa sadar berbalik memeluk dan sambil memegang kening pujaan hatinya, "Loe demam ya Ri, jangan pingsan disini ya Ri. Tar gue bingung." Perlahan Radhyn menuntun Matahari ke kursi penumpang persis disamping kemudi. Dia langsung lari kencang ke rumah, dan berpamitan dengan Mars yang sedang disuapi bubur oleh Venus. "Mars, Gu...e anter Mata...hari du...lu ya? Dia agak pana..ss badannya." tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya, Radhyn pun langsung ngacir ke bawah.

Tidak lama setelah itu, HP Mars berbunyi dan ternyata sms dari Matahari :
" Aku tau kamu pasti khawatir, makanya aku sms. Aku baik - baik aja. Aku mau coba dekat dengan Radhyn, sesuai pesan dari kamu. Kamu baik - baik ya, karna ketika aku sudah sama Radhyn, aku ga akan mungkin sesiaga kemarin - kemarin sama kamu. Salam buat Venus. By the way, besok aku ijin nonjok Merkurius ya di kantornya."

Mars tersenyum manis dan hampir tersedak bubur yang masih penuh di mulutnya. Melihat itu, Venus yang sangat merindukan Mars, tiba - tiba memeluknya dengan erat dan hampir membuat Mars kebingungan.


Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Rabu, 31 Juli 2013

Cerita Planet Cinta (part 4)

3 hari berhasil dilewati Mars . . . . . . . .

Setelah peristiwa yang Mars awali 3 hari yang lalu, dimana Mars bertemu lagi dengan Matahari yang selalu menjadi pahlawan tanpa balas jasa. Hampir setiap hari Matahari yang menemaninya, merawatnya dan memberikannya perhatian yang lebih dari sekedar sahabat. Pertanyaannya adalah kenapa Matahari begitu babas menemani Mars di rumahnya? kemanakah sang tunangan yang dipilih Mars dan meninggalkan Venus? Jawabannya Merkurius merupakan partner bisnis Mars yang sangat amat pekerja keras, seluruh waktunya hampir dihabiskan untuk mengurus segala sesuatu tentang pekerjaannya walaupun dia seorang CEO.

Jauh sebelum mengenal Mars . . . . . .

Merkurius adalah seorang pekerja keras yang bisa dibilang hampir gila dan sangat mencintai pekerjaannya. Seluruh waktunya hampir dia habiskan untuk menginap di kantor. Selenting kabar, dia menjadi seperti ini diakibatkan hubungan asmara yang tragis pernah dia alami. Hubungan yang kandas karena masalah status sosial dan materi semata. Dia merasa bahwa dia harus menjadi seorang yang berhasil dan sukses untuk menutup rapat-rapat mulut dari keluarga mantan kekasihnya, yang sudah menolaknya secara mentah-mentah. Ya, merkurius sangat berhasil. Tapi ambisinya terhadap tender-tender yang mampir ke perusahaannya selalu saja lebih penting daripada wanita yang sudah dimintanya menjadi tunangannya, 1 bulan yang lalu.

Kediaman Mars yang damai dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan . . . . . . . .

Mars yang hanya tinggal bersama sahabatnya, Radhyn dan 2 orang yang ditugaskan untuk membantu merawat rumahnya, memang terlihat sangat sunyi setelah keadaan Mars yang hanya berdiam diri di balkon kamarnya selama 3 hari. Dan selama tiga hari pula Matahari selalu berusaha membujuknya untuk makan, menghiburnya dengan musik dan lelucon yang selalu membuat Mars tertawa terbahak2. Tapi hasilnya nihil, Mars sama sekali tidak beranjak dari rasa bersalahnya terhadap Venus. 

Tiga hari yang lalu . . . . . . .

Mars pulang dalam keadaan demam tinggi, Matahari yang mengantarnya pulang tidak berhasil membujuknya untuk ke Rumah sakit. Alhasil, sesampainya di rumah, Mars pun tumbang dan pingsan saat menaiki tangga kamarnya. Radhyn dan Matahari bergegas membawanya ke Rumah sakit. Keesokan harinya, Mars hanya menghabiskan waktu di Balkon kamarnya seharian, Radhyn yang melihat keadaannya sangat sedih dan bingung apa yang harus dia lakukan. Radhyn bergegas turun ke bawah dan mencoba menghubungi Merkurius, tapi betapa terkejutnya Radhyn saat mendapati jawaban dari tunangan sahabatnya tersebut, "Dyn, kamu bisa kan urus Mars, kalian kan dah lama bareng, otomatis kamu bisa lah. Aku sibuk banget nich, kalo bukan aku yang ngurus siapa lagi coba, ini kan tendernya Mars juga. Udah dulu ya." Radhyn yang merasa sangat kesal, hanya bisa menggerutu "Gila ya ni cowo, ini tunangan loe, bro. Apa kabar kalo si Mars baru jadi pacarnya? Matipun ga peduli kali ni cowo." Radhyn yang makin kebingungan, hanya bisa mondar-mandir mencari akal. Pada satu titik, dia berhenti dan bergegas menekan tombol di telepon yang sedari tadi digenggamnya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara Radhyn yang kegirangan "Akhirnya, loe angkat juga telepon gw." Suara seorang cowo diseberang telepon pun menjawab "Wait, wait, wait. Kaget gw, kenapa sih loe dyn, tau-tau ngomong kaya gitu." "Matahari, loe bisa kesini sekarang ga, darurat nich. Mars hampir kaya orang gila. Duduk seharian di Balkon rumahnya. Cowonya, gw kabarin keadaan Mars, malah nyuruh gw ngerawat dia. Kalo gw bisa sich ga kan panik kaya gini gw." cerocos gadis tomboy ini kepada Matahari yang ternyata di hubunginya "Duuuhhhh, bawel banget sich loe. Panjang lebar, iya iya gw kesana sekarang." tut . . . tut . . . tut . . . "Sial, maen matiin telepon aja dia." Gerutu Radhyn.

Yah, itulah alasan Matahari menginap sampai kurang lebih 2 malam di rumah Mars. Mars yang sangat terpukul, hampir setiap mengerang karena mengalami mimpi buruk, menangis sesunggukan dan Mataharilah yang selalu terjaga untuk memeluk, memberikan Mars ketenangan. Matahari pun hampir kehilangan akal, bagaimana dia menyadarkan Mars yang selalu terpuruk.

2 hari kemudian . . . . . .

Bel pintu pun berbunyi di pagi hari yang masih sangat buta. Radhyn yang kebetulan tertidur di ruang keluarga, dengan langkah yang masih gontai menuju untuk membukakan pintu rumah. "iya iya bentar, ga tau diri banget ni orang, pagi-pagi begini udah namu ke rumah orang." Creeeekkkk. "Pagi dhyn, Mars ada?" sapa laki-laki diseberang pintu. Radhyn yang baru membuka mata, langsung berdiri mematung dan melotot "Venuuuuuussssss, kok loe ada disini? Mars ada diatas, ayo ke atas." Radhyn yang seolah-olah mendapat semangat baru, lansung menarik venus lari menaiki tangga. Sesampainya di depan pintu, Radhyn menghentikan langkahnya dan berbisik pada Venus "By the way, thanks ya." Mereka berdua pun masuk ke kamar Mars. Radhyn mencoba membangunkan Matahari yang selalu setia menemani Mars di sofa samping kasur Mars. "Ri, bangun ri. Liat siapa yang dateng. Ri, bangun dong." Matahari pun terperanjat kaget, dan segera bangun, dia bangkit dari sofanya dan mendekati Venus, "Gw kira loe ga dapet pesen dari gw dan ga bakal dateng kesini. Makasih ya nus, sekarang gw minta tolong ya." Tatapan venus yang tak pernah lepas dari Mars, menepuk pundak Matahari dan berkata "Serahin ke gw." Radhyn yang mencoba membangunkan Mars, ditarik oleh Matahari yang mengangguk sebagai isyarat. Venus yang entah membisikan apa ke telinga Mars, yang membuat Mars bangun seketika dan langsung memeluk Venus. Mereka terlihat seperti pasangan yang menjalani Long Distance Relationship sedang melepas rindu. Matahari yang hanya melihat dari pintu, tiba-tiba berkata pada Radhyn "Tugas gw kelar ya, cuma itu satu-satunya yang gw tau buat nyelamatin sahabat loe, tunangan Merkurius dan orang terindah yang pernah ada dalam kehidupan gw. Gw pamit ya." Radhyn hanya bisa menahan airmatanya yang hampir tumpah dan memeluk Matahari. Matahari pun pergi meninggalkan rumah Mars.

To be continue . . . . . . . . .

Selasa, 04 Juni 2013

Cerita Planet Cinta (part3)


30 menit terbuang . . . . .

Tiba-tiba lamunan Mars pun buyar karna ulah jail si Pradit yang teriak pakai toak persis di samping Mars. "Rese, loe ya Dit." Pelotot Mars ke Pradit yang cengengesan sambil bilang "Lagian loe tu ngapain bengong kaya anak ilang gitu. Hayoo, mikirin Venus ya loe? Inget Merkurius woyyyy." Mars yang memang merasa tidak sendirian, membela diri "Siapa yang anak ilang sich. Jelas-jelas gue sama Prada dari tadi disini. (sambil celingukan nyari Prada yang ternyata memang sudah tidak ada pada tempatnya semula) Loch, tadi dia disini ko sama gue, kita lagi ngomongin Venus yang ga pamit sama gue." Tawa Pradit pun makin menjadi-jadi ngeliat tingkah Mars yang lagi kebingungan, "Mana neng, Prada itu udah kelar dari 15 menit yang lalu. Motornya juga udah ga ada kan? Hmmm. Lagian kenapa sich Venus tiba-tiba ambil keputusan kaya gitu? Loe kan sahabatnya dari jaman kuliah, harusnya tau lah." Mars yang bingung mau jawab apa dan sambil nahan airmata yang hampir tumpah, hanya bisa mengangkat bahunya sebagai kata ganti "entahlah". Pradit yang melihat perubahan sahabatnya dan teman barunya ini, cuma bisa menyimpan segudang pertanyaan dalam otaknya. Lima menit mereka berdua dalam keadaan hening, tiba-tiba Mars pamit sambil berlari dari Pradit. Pradit yang masih kebingungan atas tingkah Mars yang jelas-jelas beda dari minggu lalu, hanya bisa menggelengkan kepala sambil bergumam "Gue cuma bisa berharap, semoga mereka berdua nemuin solusi yang baik, ga kaya gini, saling gengsi dan mangkir dari perasaannya masing-masing."

Di Jalanan yang Mars telusuri . . . .

Mars memilih pulang sambil berjalan kaki sampai ke rumahnya. Pikirannya terus menerus berputar dan penuh dengan masalah yang menimpa dirinya serta Venus. Kali ini Mars serasa masuk ke dalam pintu kemana saja yang mengantar dia kembali pada suatu suasana sore di masa lampau.

Di Sebuah masa lalu Mars . . . .

Dimana waktu Mars sedang menunggu Venus di sebuah mall. Mars merasa grogi, merasa bodoh karena ini bukan dirinya. Dia hanya bertemu Venus, tapi kenapa seperti ini perasaannya. Beberapa menit kemudian Venus pun datang, "lama ya? Sory macet, minum dulu yuk, haus banget nich." entah spontan atau memang sengaja Venus menarik dan menggandeng tangan Mars sampe ke lantai 4. Mereka berdua minum sambil ngobrol. Tiba-tiba Venus merasa jenuh, "Nonton yuk, ada film apa ya sekarang?" Lagi-lagi tanpa meminta persetujuan Mars, dia menarik tangan mars lagi sambil membayar minuman dan berjalan menuju gedung bioskop. Yang Mars cari pertama kali adalah film Breaking Dawn, dan beruntungnya di mall itu masih ada. Dengan rengekan seperti anak kecil "Nus, nonton ini ya (sambil menunjuk poster film Breaking Dawn), please. Seru ko filmnya, ga cengeng." Venus  gemas melihat muka Mars yang memelas di matanya, langsung tersenyum manis, mengangguk tanda setuju dan mengelus kepala Mars. Kali ini Mars yang menarik Venus untuk segara membeli tiket dan menonton film tersebut. Entah apa yang ada dipikiran Venus mengikuti kemauan Mars, padahal sebenarnya Venus ingin sekali menonton film "Mengapa Aku Berbeda Ayah?". Venus hanya menyadari bahwa dirinya tak ingin kehilangan 1 senyum manis yang membuatnya nyaman walau itu hanya 1 detik.

Beberapa meter kemudian . . . .

Untuk kedua kalinya Mars tersentak kaget dari lamunan masa lalunya, dia menabrak seseorang yang sengaja berdiri di depannya untuk menghentikan langkah Mars. Sambil mengusap-usap hidungnya dia meminta maaf "Maaf, Maaf bgt ya mas atau mba, aku ga sengaja. Maaf aku yg salah karna bengong sambil jalan." Tiba-tiba suara yang tidak asing di telinga Mars terdengar "Kamu kenapa? Ngapain Kamu jalan sejauh ini hanya untuk melamun sesuatu yang belum tentu memikirkan kamu." Mars mulai terisak, dia tak kuasa lagi menahan airmatanya, setelah mendengar kalimat pedih yang Matahari katakan. Matahari pun memeluknya dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Mars yang merasa, bahwa Mataharilah yang benar-benar tau perasaannya bertanya "Aku salah ya? Kenapa dia seperti itu? Aku bego banget ya? ga peka sama sekali dan malah nyakitin dia. Tapi aku benar-benar sudah tidak ada rasa seperti dulu, bukankah lebih baik jujur dari sekarang daripada nantinya malah makin tambah bikin dia sakit hati?" Melihat tangis Mars yang semakin menjadi-jadi, Matahari hanya bisa diam dan memberikan tempat di pundaknya untuk bersandar Mars. Selama 15 menit waktu terbuang sia-sia dengan kebisuan masing-masing. Matahari yang asik dengan pikirannya dan rasa cemburunya sendiri. Mars dengan tangisannya yang perlahan mulai reda, tapi tetap Venus yang ada dipikirannya. Semuanya benar-benar tidak saling jujur satu sama lain. Matahari adalah mantan kekasih Mars yang memang sudah lama kenal dengan Mars, sehingga walau mereka putus pun, mereka masih bisa seperti sahabat dan teman baik. Mars menyadari bahwa memang Matahari yang selalu ada untuknya dan selalu mengerti apa yang dirasakannya, tapi mustahil bagi mereka untuk kembali bersatu. Apalagi Mars dan Merkurius sudah mulai menjalin hubungan yang lebih serius. Yaaah, Merkurius adalah rekan bisnisnya yang ternyata sekarang bukan sekedar rekan bisnis, melainkan calon Tunangannya. Itulah yang ada dipikiran Mars pada malam, dimana dia memutuskan untuk memilih Merkurius yang bisa memberikan kepastian terhadap perasaan Mars yang telah lelah berganti-ganti hati.


i'll be back to next story . . . . . .

Cerita Planet Cinta (part2)


Seminggu yang terlewatkan . . . . . .

Setelah hampir seminggu setelah kejadian malam itu, Venus sama sekali tidak muncul di sekolah terbuka. Mars yang awalnya biasa saja, akhirnya mulai resah. Dia bertanya pada Prada, "Da, mmm. Mau tanya, tapi jangan heran ya?" Prada yang sedikit heran, hanya bisa mengernyitkan jidatnya "Apan sich loe, nyante aja kali. Mau tanya venus? Hmm. Seminggu yang lalu sich dia pamitan, katanya mau nglanjutin kuliahnya. Tapi feeling gue ya, dia sich menghindar dari loe." Mars tiba-tiba terdiam, rasa bersalah pun mulai hingga di hatinya. Tapi sekali lagi dia meyakinkan hatinya. "Ko ga pamitan sama gue ya? Gue kan temennya juga." Prada yang sambil beresin buku anak-anak dengan santai menjawab "Emang Venus abis loe apain sich, Mars? Kayanya terpukul banget. Bukannya mau ikut campur, tapi bisa keliatan dari mukanya, yaahh, walaupun dia gengsi ngakuinnya." Setelah pernyataan dari Prada itu, tiba-tiba Mars serasa menaiki mesin waktu dan kembali ke tahun lalu.

Satu Tahun silam . . . . .

Dimana dia yang sudah lost kontak dengan Venus, dan dengan seenak jidatnya Venus hadir secara tiba-tiba. Hampir setiap hari dia habiskan waktu bersama Venus, cerita, bercanda, merangkai mimpi bersama dengan status bersahabat. Lambat laun, perasaan berbeda di alami oleh Mars. Dengan Venus, Mars merasa bebas, bisa mengetahui apa yang dia belum ketahui, melakukan hal-hal menarik dan yang lebih menyenangkan adalah sama-sama menyukai sastra. Pada pertemuan pertamanya, saat setelah sekian lama tidak bertemu, mereka menonton sebuah pertunjukan theater di daerah pasar minggu. Suatu mahakarya sastra terindah yang pertama kali Mars saksikan dan itu pun hadiah pertama dari Venus untuk Mars atas kecintaannya pada sastra. Tanpa terasa waktu berlalu dan hampir tengah malam pertunjukan belum selesai. Itu pertama kalinya seorang Mars melihat Jakarta pada malam hari. Dan pertama kalinya juga Mars merasakan cinta tumbuh dalam hatinya. 


Saat sampai di rumah, Mars yang pada dasarnya malu-malu, sempat mencuri cium di pipi Venus sebelah kiri, sambil berkata "Aku mau belajar jadi rock 'n roll bersama kamu, tapi tetap menggunakan logika dan sastra yang indah." Venus hanya bisa terdiam melihat tingkah Mars seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan gulali paling manis di dunia. Tapi anehnya bukan senyum perasaan senang yang tergambar di muka Venus, tapi senyum kecut yang menggambar rasa bersalah. "Semoga tidak ada hati yang kulukai setelah kejadian dan kedekatan malam ini." kata Venus saat Mars menutup pintu pagarnya. Dalam perjalanan pulang Venus teringat akan Bulan, pacarnya yang sekarang tinggal di Bogor. Entah rasa bersalah, penyesalan atau angan-angan, tiba-tiba hatinya berkata "Seandainya Bulan semenyenangkan Mars, tersenyum manis seperti Mars dan sangat amat jatuh cinta terhadap sastra seperti Mars." spontan Venus ngerem mendadak. Sambil mengetuk-ngetuk kepalanya yang masih terlindung helm, dia bergumam sendiri "Apaan sich ni yang ada dipikiranku, Mars ya Mars, Bulan ya Bulan. Dan pacarku adalah Bulan. Kenapa jadi mikirin Mars yang udah ku anggap adik sendiri."

Dalam Kamar Mars . . . . .

Mars yang selesai mandi langsung mengurung di dalam kamarnya. Bukannya segera tidur karena keesokan harinya harus berangkat pagi-pagi buta, ini malah mengobrak-abrik tas yang di pakainya tadi dan mengambil sebuah buku. Buku itu ternyata hadiah sekaligus bukti permintaan maaf Venus padanya karna sudah hampir satu tahun tidak menghubunginya. Buku itu berjudul "Ketika Cinta ...??" yang dibaca Ketika Cinta Tiga Titik Dua tanda Tanya. Buku yang mengkisahkan tentang sebuah kisah cinta klasik yang memang kesukaan Mars. Persahabatan dari kecil, tumbuhnya rasa cinta diantara dua sahabat, tiba-tiba salah satu mereka mengidap suatu penyakit, kemudian meninggalkan pasangannya, namun pada akhirnya kembali lagi untuk bertemu walau entah sampai kapan mereka bersama. Buku yang mengisahkan tentang  Buku yang memiliki manfaat untuk dibaca, ternyata tidak berlaku untuk Mars. Buku itu hanya dipeluknya dan diciumnya hingga dia terlelap tidur dengan sendirinya.

Cerita Planet Cinta (part1)

Saat malam tanpa bintang itu . . . . .

Pada akhirnya Mars mulai melangkah menjauh meninggalkan Venus yang hanya terpaku di ujung jalan. Venus sendiri pun hanya bisa terdiam dan terpaku atas pernyataan Mars yang masih menjadi tanda tanya untuknya. Mars hanya bisa melangkah dengan meyakinkan hatinya, bahwa pilihannya terhadap Merkurius adalah jalan terbaik, walau terkadang bayang-bayang si Matahari pun masih singgah dalam benaknya. Mars hanya merasa bahwa dirinya lebih berarti di mata Merkurius ketimbang di mata Venus yang selalu saja membuatnya tidak yakin dan berkata "Apakah aku bersalah telah melangkah  jauh untuk menjahuimu, Nus? Aku hanya ingin hariku penuh dengan senyum bukan tangis kebingungan atas apa yang aku rasain?"

Venus terbayang atas apa yang telah dia jalani bersama Mars beberapa bulan bahkan tahun kebelakangan. Mulai dari perasaan Mars dulu yang sangat menggebu-gebu untuk memiliki Venus, menangis untuk Venus, menunggu Venus, melakukan hal-hal yang tidak biasa dia lakukan dan yang masih sangat di ingat adalah "aku akan belajar menjadi rock 'n roll bersamamu (sambil mencuri cium di pipi Venus dan berlari masuk ke dalam rumahnya). Otaknya mulai berputar dan bertanya, "Apa masa itu telah lewat? Apa ini yang Mars rasakan saat aku mengabaikan perasaannya tahun lalu? Apa seorang Mars yang ku kenal tahun lalu berbeda dengan Mars yang ada di hadapanku barusan?" Venus memang pernah bilang kepada Mars bahwa dia sampai saat ini pun belum yakin apakah Venus benar sayang atau tidak dengan Mars, tapi Venus selalu meyakinkan hatinya setiap pagi bahwa dia akan bisa menyayangi Mars dengan sepenuh hati. Tapi kenapa justru Mars yang berbalik arah dan menyerah terhadapnya? Sampai detik ini pun Venus hanya mampu terpaku dan asik dengan pikirannya sendiri, sembari duduk di trotoar jalan, dimana bekas tempat mars meneteskan airmatanya tahun lalu saat Venus menolaknya.

Keesokan harinya . . . . . .

Sinar matahari yang mulai memasuki ruang kamar Venus dari celah jendela, berhasil membangunkan Venus yang masih terkantuk. Entah kenapa pagi ini dia enggan untuk beranjak dari kasur lusuhnya. Pikirannya langsung tertuju pada hal semalam yang bisa dibilang sedikit membuatnya terpukul, walau dia enggan mengakuinya. Dipikirannya hanya sedikit heran dengan cerminan kelakuan Mars tahun lalu.

Mars merupakan teman kuliahnya dari awal semester, dia merupakan gadis yang tomboy tapi tidak urakan. Mars punya nilai plus tersendiri di mata Venus, walau Venus sempat kesal karna pertama kali bertemu saat mars sedang meneteskan airmata (karna pada dasarnya Venus paling benci dengan perempuan yang cengeng di depan laki-laki). Percaya atau tidak airmata Mars langsung berhenti karna omongan Venus tentang pare yang ada di panci tukang somay "Mars, kamu tau ga orang yang doyan pare itu tandanya dia orang kuat, contohnya ya kaya aku ini". Mars yang lagi nyuap somay ke dalam mulutnya langsung tersedak dan bilang "Ko bisa sich? ga pecaya ah, itu mah statement dari kamu aja, karna kamu suka pare." Venus hanya bisa senyum dan menjawab, "ga pecaya nich sama aku, pare itu pait, otomatis orang itu udah tau gimana paitnya dunia, ga cuma yang manis-manis, emang sich itu statement dari aku, walau ngarang tapi masuk akal kan?" Mars yang tadinya lahap langsung berenti nyuap dan berdiri. Venus bingung dengan tingkah Mars (yang selalu ga jelas dan muncul secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan mau ngapain). Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi. Mars yang berdiri langsung ke tukang somay dan memesan pare sebanyak tiga buah, lalu duduk lagi di sebelah Venus dan berkata "nih, aku makan tiga, berarti aku lebih kuat dari kamu, karna kamu cuma makan dua. Aku tau kamu bilang gitu karna tadi liat aku nangis, aku mau buktiin kalo aku bukan cewek lemah." Dengan sedikit terpaksa dan menahan rasa pahit, pare-pare itu pun dilahap oleh Mars. Venus tersenyum lega sambil mengusap-usap kepala Mars.

Lamunan Venus pun buyar saat nada dering di Handphonenya berbunyi, nomor yang tampak adalah nomor rekannya. Dia pun sedikit panik, "Astaga lupa gue kalo hari ini harus ngajar anak-anak". Dia segera angkat telepon dan menjawab "Iya, sory kesiangan, gue langsung berangkat kesana sekarang". Venus selalu punya cita-cita untuk jadi pengajar dan membuka sekolah terbuka untuk anak-anak jalanan dan akhirnya dia pun berhasil mewujudkannya. Kurang lebih sudah hampir setengah tahun dia menjalaninya berempat bersama rekannya, termasuk Mars di dalamnya, tapi mungkin sekarang hanya bertiga, karna Mars pasti sudah tidak mau datang lagi kesana.

Sesampainya di sekolah . . . .

Kurang dari 1 jam Venus akhirnya sampai juga di sekolah terbuka itu, dan betapa terkejutnya Venus sampai-sampai helm yang mau di taruhnya terjatuh. Venus melihat Mars yang sedang mengajar di ruangan dan perlahan mendekat ke arah rekannya yang bernama Pradit, "kok ada dia? kan ini jadwal gue?". Pradit dengan santai menjawab, "lah kan kalian itu sama aja, ga ada Venus, Mars pun jadi. Sory dech kalo gue ikut campur tapi tadi Mars bilang apa pun yang terjadi antara dia dan loe, dia ga kan pernah ninggalin anak-anak. Gue sich ga ngerti apa yang terjadi antara kalian berdua tapi kalo mars bisa tenang dan biasa aja, harusnya loe juga harus bisa ngimbangin dong". Sekolah terbuka pun usai dan Mars yang sudah ada janji dengan Merkurius pun langsung cabut dengan pamit yang sekedarnya kepada Prada dan Pradit. Pradit dan Prada adalah teman bermain Venus dari jaman dia kerja di suatu tempat, sebelum dia kuliah bersama Mars.

Setelah perginya Mars, kali ini Venus yang mulai berbicara ke Pradit dan Prada "Bisa ngomong bentar ga di luar?" Prada yang memang teman paling konyol yang ada dalam sekolah itu langsung nyeletuk "Apaan sich loe Nus, kaku aje kaya kanebo kering." Celtuknya bersama suara tawanya yang membahana. Venus yang memang belum bisa tersenyum karna ulah Mars semalam, langsung masuk ke dalam pokok pembicaraan "Kayanya gue bakal fakum lama nih, gue mau lanjutin kuliah lagi. Ga pengaruh kan ada atau ga adanya gue disini." Mereka berdua cuma bisa diam. Sedangkan Venus hanya berpikir, dia ga setegar Mars, dia pasti hanya akan memperburuk suasana disini. Dia pastikan akan pergi untuk sementara waktu sampai dia bisa menerima alasan, sikap, tindakan dan keputusan yang Mars ambil secara sepihak. (Rpp)

To be continue guys . . . . . . . .

Kenalan Dulu Yuk

Salam kenal,
Nama saya adalah Rizky Putri Pradiyan. Saya adalah mahasiswi konversi di Universitas Bhayangkara Bekasi yang sedang menjalani pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Public Relations. Mengapa disebut "konversi"? Sekedar bercerita, awalnya saya melakukan pendidikan di Akademi Komunikasi, Bina Sarana Informatika. Dan Alhamdulillah berhasil dengan lumayan memuaskan serta tepat waktu dalam menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga (D3). Karna saya juga merupakan manusia biasa yang belum puas dengan apa yang saya capai, maka saya melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Bhayangkara Bekasi.
Ketertarikan saya dalam dunia profesi Kehumasan atau Public Relations, berawal dari kegemaran saya dalam menulis cerita pendek, novel berseri dan memprogram suatu event kecil-kecilan. Sayangnya, ketertarikan itu baru muncul saat saya sudah merasakan keterpaksaan dan ketidak-ikhlasan memasuki pendidikan di Akademi Komunikasi, Jurusan Public Relations. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin saya memperdalam ilmu komunikasi, saya justru semakin tertarik dan menyukainya.

Hal ini terbukti saat saya memutuskan untuk melanjutkan pedidikan Strata 1 Jurusan Public Relations, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bhayangkara. Masing-masing orang pasti memiliki sebuah rencana dalam karir setelah menyelesaikan pendidikan. Saya pun juga memiliki rencana setelah menyelesaikan pendidikan. Saya selalu ingin menjadi novelis, konsultan public relations dan dosen. Sebelum mencapai semua itu, tentu saja masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya untuk menjadi novelis, saya harus melatih kemampuan menulis, memperbanyak perbendaharaan kata, keterampilan mengolah kalimat dan mengolah kalimat menjadi lebih indah serta menarik. Untuk menjadi seorang Konsultan Public Relations, yang harus dilakukan adalah mencari pengalaman kerja minimal 3 tahun di bidang kehumasan dan mencari jabatan di bidang itu, melanjutkan pendidikan sampai ke Strata 2 untuk mendapat perijinan membuka praktik konsultan public relations, serta mulai berlatih sebagai motivator atau pembicara di seminar. Sedangkan untuk menjadi seorang dosen, sebenarnya langkah yang harus di ambil hampir sama seperti menjadi seorang konsultan public relations.

Akan tetapi, tidak semua bisa berjalan dengan mudah, maka dari itu mulai dari sekarang saya sudah mulai menyiapkan sebagian kecil dari usaha di atas, misal mulai melatih menulis lagi baik cerita maupun informasi mengenai teori tentang public relations di blog ini. Mulai memperdalam mengenai program dan tugas-tugas seorang punlic relations baik di belakang meja maupun tampil di hadapan khalayak luas.

Demikian sesi perkenalan dari saya, semoga bisa dapat menjadi inspirasi kecil bagi para pembaca. Intinya bila anda ingin menyukai sesuatu, maka cari tahu dan kenalilah hal itu terlebih dahulu, lakukan dengan perasaan senang dan tanpa beban, maka insya allah semua akan mudah dan berlanjar dengan baik. Terima kasih atas perhatiannya.

Dan selamat menikmati cerita-cerita yang insya allah akan membuat para pembaca mauk ke dalamnya.

Wassalammualaikum wr.wb