Selasa, 04 Juni 2013

Cerita Planet Cinta (part1)

Saat malam tanpa bintang itu . . . . .

Pada akhirnya Mars mulai melangkah menjauh meninggalkan Venus yang hanya terpaku di ujung jalan. Venus sendiri pun hanya bisa terdiam dan terpaku atas pernyataan Mars yang masih menjadi tanda tanya untuknya. Mars hanya bisa melangkah dengan meyakinkan hatinya, bahwa pilihannya terhadap Merkurius adalah jalan terbaik, walau terkadang bayang-bayang si Matahari pun masih singgah dalam benaknya. Mars hanya merasa bahwa dirinya lebih berarti di mata Merkurius ketimbang di mata Venus yang selalu saja membuatnya tidak yakin dan berkata "Apakah aku bersalah telah melangkah  jauh untuk menjahuimu, Nus? Aku hanya ingin hariku penuh dengan senyum bukan tangis kebingungan atas apa yang aku rasain?"

Venus terbayang atas apa yang telah dia jalani bersama Mars beberapa bulan bahkan tahun kebelakangan. Mulai dari perasaan Mars dulu yang sangat menggebu-gebu untuk memiliki Venus, menangis untuk Venus, menunggu Venus, melakukan hal-hal yang tidak biasa dia lakukan dan yang masih sangat di ingat adalah "aku akan belajar menjadi rock 'n roll bersamamu (sambil mencuri cium di pipi Venus dan berlari masuk ke dalam rumahnya). Otaknya mulai berputar dan bertanya, "Apa masa itu telah lewat? Apa ini yang Mars rasakan saat aku mengabaikan perasaannya tahun lalu? Apa seorang Mars yang ku kenal tahun lalu berbeda dengan Mars yang ada di hadapanku barusan?" Venus memang pernah bilang kepada Mars bahwa dia sampai saat ini pun belum yakin apakah Venus benar sayang atau tidak dengan Mars, tapi Venus selalu meyakinkan hatinya setiap pagi bahwa dia akan bisa menyayangi Mars dengan sepenuh hati. Tapi kenapa justru Mars yang berbalik arah dan menyerah terhadapnya? Sampai detik ini pun Venus hanya mampu terpaku dan asik dengan pikirannya sendiri, sembari duduk di trotoar jalan, dimana bekas tempat mars meneteskan airmatanya tahun lalu saat Venus menolaknya.

Keesokan harinya . . . . . .

Sinar matahari yang mulai memasuki ruang kamar Venus dari celah jendela, berhasil membangunkan Venus yang masih terkantuk. Entah kenapa pagi ini dia enggan untuk beranjak dari kasur lusuhnya. Pikirannya langsung tertuju pada hal semalam yang bisa dibilang sedikit membuatnya terpukul, walau dia enggan mengakuinya. Dipikirannya hanya sedikit heran dengan cerminan kelakuan Mars tahun lalu.

Mars merupakan teman kuliahnya dari awal semester, dia merupakan gadis yang tomboy tapi tidak urakan. Mars punya nilai plus tersendiri di mata Venus, walau Venus sempat kesal karna pertama kali bertemu saat mars sedang meneteskan airmata (karna pada dasarnya Venus paling benci dengan perempuan yang cengeng di depan laki-laki). Percaya atau tidak airmata Mars langsung berhenti karna omongan Venus tentang pare yang ada di panci tukang somay "Mars, kamu tau ga orang yang doyan pare itu tandanya dia orang kuat, contohnya ya kaya aku ini". Mars yang lagi nyuap somay ke dalam mulutnya langsung tersedak dan bilang "Ko bisa sich? ga pecaya ah, itu mah statement dari kamu aja, karna kamu suka pare." Venus hanya bisa senyum dan menjawab, "ga pecaya nich sama aku, pare itu pait, otomatis orang itu udah tau gimana paitnya dunia, ga cuma yang manis-manis, emang sich itu statement dari aku, walau ngarang tapi masuk akal kan?" Mars yang tadinya lahap langsung berenti nyuap dan berdiri. Venus bingung dengan tingkah Mars (yang selalu ga jelas dan muncul secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan mau ngapain). Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi. Mars yang berdiri langsung ke tukang somay dan memesan pare sebanyak tiga buah, lalu duduk lagi di sebelah Venus dan berkata "nih, aku makan tiga, berarti aku lebih kuat dari kamu, karna kamu cuma makan dua. Aku tau kamu bilang gitu karna tadi liat aku nangis, aku mau buktiin kalo aku bukan cewek lemah." Dengan sedikit terpaksa dan menahan rasa pahit, pare-pare itu pun dilahap oleh Mars. Venus tersenyum lega sambil mengusap-usap kepala Mars.

Lamunan Venus pun buyar saat nada dering di Handphonenya berbunyi, nomor yang tampak adalah nomor rekannya. Dia pun sedikit panik, "Astaga lupa gue kalo hari ini harus ngajar anak-anak". Dia segera angkat telepon dan menjawab "Iya, sory kesiangan, gue langsung berangkat kesana sekarang". Venus selalu punya cita-cita untuk jadi pengajar dan membuka sekolah terbuka untuk anak-anak jalanan dan akhirnya dia pun berhasil mewujudkannya. Kurang lebih sudah hampir setengah tahun dia menjalaninya berempat bersama rekannya, termasuk Mars di dalamnya, tapi mungkin sekarang hanya bertiga, karna Mars pasti sudah tidak mau datang lagi kesana.

Sesampainya di sekolah . . . .

Kurang dari 1 jam Venus akhirnya sampai juga di sekolah terbuka itu, dan betapa terkejutnya Venus sampai-sampai helm yang mau di taruhnya terjatuh. Venus melihat Mars yang sedang mengajar di ruangan dan perlahan mendekat ke arah rekannya yang bernama Pradit, "kok ada dia? kan ini jadwal gue?". Pradit dengan santai menjawab, "lah kan kalian itu sama aja, ga ada Venus, Mars pun jadi. Sory dech kalo gue ikut campur tapi tadi Mars bilang apa pun yang terjadi antara dia dan loe, dia ga kan pernah ninggalin anak-anak. Gue sich ga ngerti apa yang terjadi antara kalian berdua tapi kalo mars bisa tenang dan biasa aja, harusnya loe juga harus bisa ngimbangin dong". Sekolah terbuka pun usai dan Mars yang sudah ada janji dengan Merkurius pun langsung cabut dengan pamit yang sekedarnya kepada Prada dan Pradit. Pradit dan Prada adalah teman bermain Venus dari jaman dia kerja di suatu tempat, sebelum dia kuliah bersama Mars.

Setelah perginya Mars, kali ini Venus yang mulai berbicara ke Pradit dan Prada "Bisa ngomong bentar ga di luar?" Prada yang memang teman paling konyol yang ada dalam sekolah itu langsung nyeletuk "Apaan sich loe Nus, kaku aje kaya kanebo kering." Celtuknya bersama suara tawanya yang membahana. Venus yang memang belum bisa tersenyum karna ulah Mars semalam, langsung masuk ke dalam pokok pembicaraan "Kayanya gue bakal fakum lama nih, gue mau lanjutin kuliah lagi. Ga pengaruh kan ada atau ga adanya gue disini." Mereka berdua cuma bisa diam. Sedangkan Venus hanya berpikir, dia ga setegar Mars, dia pasti hanya akan memperburuk suasana disini. Dia pastikan akan pergi untuk sementara waktu sampai dia bisa menerima alasan, sikap, tindakan dan keputusan yang Mars ambil secara sepihak. (Rpp)

To be continue guys . . . . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar