30 menit terbuang . . . . .
Tiba-tiba lamunan Mars pun buyar karna ulah jail si Pradit yang teriak pakai toak persis di samping Mars. "Rese, loe ya Dit." Pelotot Mars ke Pradit yang cengengesan sambil bilang "Lagian loe tu ngapain bengong kaya anak ilang gitu. Hayoo, mikirin Venus ya loe? Inget Merkurius woyyyy." Mars yang memang merasa tidak sendirian, membela diri "Siapa yang anak ilang sich. Jelas-jelas gue sama Prada dari tadi disini. (sambil celingukan nyari Prada yang ternyata memang sudah tidak ada pada tempatnya semula) Loch, tadi dia disini ko sama gue, kita lagi ngomongin Venus yang ga pamit sama gue." Tawa Pradit pun makin menjadi-jadi ngeliat tingkah Mars yang lagi kebingungan, "Mana neng, Prada itu udah kelar dari 15 menit yang lalu. Motornya juga udah ga ada kan? Hmmm. Lagian kenapa sich Venus tiba-tiba ambil keputusan kaya gitu? Loe kan sahabatnya dari jaman kuliah, harusnya tau lah." Mars yang bingung mau jawab apa dan sambil nahan airmata yang hampir tumpah, hanya bisa mengangkat bahunya sebagai kata ganti "entahlah". Pradit yang melihat perubahan sahabatnya dan teman barunya ini, cuma bisa menyimpan segudang pertanyaan dalam otaknya. Lima menit mereka berdua dalam keadaan hening, tiba-tiba Mars pamit sambil berlari dari Pradit. Pradit yang masih kebingungan atas tingkah Mars yang jelas-jelas beda dari minggu lalu, hanya bisa menggelengkan kepala sambil bergumam "Gue cuma bisa berharap, semoga mereka berdua nemuin solusi yang baik, ga kaya gini, saling gengsi dan mangkir dari perasaannya masing-masing."
Di Jalanan yang Mars telusuri . . . .
Mars memilih pulang sambil berjalan kaki sampai ke rumahnya. Pikirannya terus menerus berputar dan penuh dengan masalah yang menimpa dirinya serta Venus. Kali ini Mars serasa masuk ke dalam pintu kemana saja yang mengantar dia kembali pada suatu suasana sore di masa lampau.
Di Sebuah masa lalu Mars . . . .
Dimana waktu Mars sedang menunggu Venus di sebuah mall. Mars merasa grogi, merasa bodoh karena ini bukan dirinya. Dia hanya bertemu Venus, tapi kenapa seperti ini perasaannya. Beberapa menit kemudian Venus pun datang, "lama ya? Sory macet, minum dulu yuk, haus banget nich." entah spontan atau memang sengaja Venus menarik dan menggandeng tangan Mars sampe ke lantai 4. Mereka berdua minum sambil ngobrol. Tiba-tiba Venus merasa jenuh, "Nonton yuk, ada film apa ya sekarang?" Lagi-lagi tanpa meminta persetujuan Mars, dia menarik tangan mars lagi sambil membayar minuman dan berjalan menuju gedung bioskop. Yang Mars cari pertama kali adalah film Breaking Dawn, dan beruntungnya di mall itu masih ada. Dengan rengekan seperti anak kecil "Nus, nonton ini ya (sambil menunjuk poster film Breaking Dawn), please. Seru ko filmnya, ga cengeng." Venus gemas melihat muka Mars yang memelas di matanya, langsung tersenyum manis, mengangguk tanda setuju dan mengelus kepala Mars. Kali ini Mars yang menarik Venus untuk segara membeli tiket dan menonton film tersebut. Entah apa yang ada dipikiran Venus mengikuti kemauan Mars, padahal sebenarnya Venus ingin sekali menonton film "Mengapa Aku Berbeda Ayah?". Venus hanya menyadari bahwa dirinya tak ingin kehilangan 1 senyum manis yang membuatnya nyaman walau itu hanya 1 detik.
Beberapa meter kemudian . . . .
Untuk kedua kalinya Mars tersentak kaget dari lamunan masa lalunya, dia menabrak seseorang yang sengaja berdiri di depannya untuk menghentikan langkah Mars. Sambil mengusap-usap hidungnya dia meminta maaf "Maaf, Maaf bgt ya mas atau mba, aku ga sengaja. Maaf aku yg salah karna bengong sambil jalan." Tiba-tiba suara yang tidak asing di telinga Mars terdengar "Kamu kenapa? Ngapain Kamu jalan sejauh ini hanya untuk melamun sesuatu yang belum tentu memikirkan kamu." Mars mulai terisak, dia tak kuasa lagi menahan airmatanya, setelah mendengar kalimat pedih yang Matahari katakan. Matahari pun memeluknya dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Mars yang merasa, bahwa Mataharilah yang benar-benar tau perasaannya bertanya "Aku salah ya? Kenapa dia seperti itu? Aku bego banget ya? ga peka sama sekali dan malah nyakitin dia. Tapi aku benar-benar sudah tidak ada rasa seperti dulu, bukankah lebih baik jujur dari sekarang daripada nantinya malah makin tambah bikin dia sakit hati?" Melihat tangis Mars yang semakin menjadi-jadi, Matahari hanya bisa diam dan memberikan tempat di pundaknya untuk bersandar Mars. Selama 15 menit waktu terbuang sia-sia dengan kebisuan masing-masing. Matahari yang asik dengan pikirannya dan rasa cemburunya sendiri. Mars dengan tangisannya yang perlahan mulai reda, tapi tetap Venus yang ada dipikirannya. Semuanya benar-benar tidak saling jujur satu sama lain. Matahari adalah mantan kekasih Mars yang memang sudah lama kenal dengan Mars, sehingga walau mereka putus pun, mereka masih bisa seperti sahabat dan teman baik. Mars menyadari bahwa memang Matahari yang selalu ada untuknya dan selalu mengerti apa yang dirasakannya, tapi mustahil bagi mereka untuk kembali bersatu. Apalagi Mars dan Merkurius sudah mulai menjalin hubungan yang lebih serius. Yaaah, Merkurius adalah rekan bisnisnya yang ternyata sekarang bukan sekedar rekan bisnis, melainkan calon Tunangannya. Itulah yang ada dipikiran Mars pada malam, dimana dia memutuskan untuk memilih Merkurius yang bisa memberikan kepastian terhadap perasaan Mars yang telah lelah berganti-ganti hati.
i'll be back to next story . . . . . .