3 hari berhasil dilewati Mars . . . . . . . .
Setelah peristiwa yang Mars awali 3 hari yang lalu, dimana Mars bertemu lagi dengan Matahari yang selalu menjadi pahlawan tanpa balas jasa. Hampir setiap hari Matahari yang menemaninya, merawatnya dan memberikannya perhatian yang lebih dari sekedar sahabat. Pertanyaannya adalah kenapa Matahari begitu babas menemani Mars di rumahnya? kemanakah sang tunangan yang dipilih Mars dan meninggalkan Venus? Jawabannya Merkurius merupakan partner bisnis Mars yang sangat amat pekerja keras, seluruh waktunya hampir dihabiskan untuk mengurus segala sesuatu tentang pekerjaannya walaupun dia seorang CEO.
Jauh sebelum mengenal Mars . . . . . .
Merkurius adalah seorang pekerja keras yang bisa dibilang hampir gila dan sangat mencintai pekerjaannya. Seluruh waktunya hampir dia habiskan untuk menginap di kantor. Selenting kabar, dia menjadi seperti ini diakibatkan hubungan asmara yang tragis pernah dia alami. Hubungan yang kandas karena masalah status sosial dan materi semata. Dia merasa bahwa dia harus menjadi seorang yang berhasil dan sukses untuk menutup rapat-rapat mulut dari keluarga mantan kekasihnya, yang sudah menolaknya secara mentah-mentah. Ya, merkurius sangat berhasil. Tapi ambisinya terhadap tender-tender yang mampir ke perusahaannya selalu saja lebih penting daripada wanita yang sudah dimintanya menjadi tunangannya, 1 bulan yang lalu.
Kediaman Mars yang damai dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan . . . . . . . .
Mars yang hanya tinggal bersama sahabatnya, Radhyn dan 2 orang yang ditugaskan untuk membantu merawat rumahnya, memang terlihat sangat sunyi setelah keadaan Mars yang hanya berdiam diri di balkon kamarnya selama 3 hari. Dan selama tiga hari pula Matahari selalu berusaha membujuknya untuk makan, menghiburnya dengan musik dan lelucon yang selalu membuat Mars tertawa terbahak2. Tapi hasilnya nihil, Mars sama sekali tidak beranjak dari rasa bersalahnya terhadap Venus.
Tiga hari yang lalu . . . . . . .
Mars pulang dalam keadaan demam tinggi, Matahari yang mengantarnya pulang tidak berhasil membujuknya untuk ke Rumah sakit. Alhasil, sesampainya di rumah, Mars pun tumbang dan pingsan saat menaiki tangga kamarnya. Radhyn dan Matahari bergegas membawanya ke Rumah sakit. Keesokan harinya, Mars hanya menghabiskan waktu di Balkon kamarnya seharian, Radhyn yang melihat keadaannya sangat sedih dan bingung apa yang harus dia lakukan. Radhyn bergegas turun ke bawah dan mencoba menghubungi Merkurius, tapi betapa terkejutnya Radhyn saat mendapati jawaban dari tunangan sahabatnya tersebut, "Dyn, kamu bisa kan urus Mars, kalian kan dah lama bareng, otomatis kamu bisa lah. Aku sibuk banget nich, kalo bukan aku yang ngurus siapa lagi coba, ini kan tendernya Mars juga. Udah dulu ya." Radhyn yang merasa sangat kesal, hanya bisa menggerutu "Gila ya ni cowo, ini tunangan loe, bro. Apa kabar kalo si Mars baru jadi pacarnya? Matipun ga peduli kali ni cowo." Radhyn yang makin kebingungan, hanya bisa mondar-mandir mencari akal. Pada satu titik, dia berhenti dan bergegas menekan tombol di telepon yang sedari tadi digenggamnya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara Radhyn yang kegirangan "Akhirnya, loe angkat juga telepon gw." Suara seorang cowo diseberang telepon pun menjawab "Wait, wait, wait. Kaget gw, kenapa sih loe dyn, tau-tau ngomong kaya gitu." "Matahari, loe bisa kesini sekarang ga, darurat nich. Mars hampir kaya orang gila. Duduk seharian di Balkon rumahnya. Cowonya, gw kabarin keadaan Mars, malah nyuruh gw ngerawat dia. Kalo gw bisa sich ga kan panik kaya gini gw." cerocos gadis tomboy ini kepada Matahari yang ternyata di hubunginya "Duuuhhhh, bawel banget sich loe. Panjang lebar, iya iya gw kesana sekarang." tut . . . tut . . . tut . . . "Sial, maen matiin telepon aja dia." Gerutu Radhyn.
Yah, itulah alasan Matahari menginap sampai kurang lebih 2 malam di rumah Mars. Mars yang sangat terpukul, hampir setiap mengerang karena mengalami mimpi buruk, menangis sesunggukan dan Mataharilah yang selalu terjaga untuk memeluk, memberikan Mars ketenangan. Matahari pun hampir kehilangan akal, bagaimana dia menyadarkan Mars yang selalu terpuruk.
2 hari kemudian . . . . . .
Bel pintu pun berbunyi di pagi hari yang masih sangat buta. Radhyn yang kebetulan tertidur di ruang keluarga, dengan langkah yang masih gontai menuju untuk membukakan pintu rumah. "iya iya bentar, ga tau diri banget ni orang, pagi-pagi begini udah namu ke rumah orang." Creeeekkkk. "Pagi dhyn, Mars ada?" sapa laki-laki diseberang pintu. Radhyn yang baru membuka mata, langsung berdiri mematung dan melotot "Venuuuuuussssss, kok loe ada disini? Mars ada diatas, ayo ke atas." Radhyn yang seolah-olah mendapat semangat baru, lansung menarik venus lari menaiki tangga. Sesampainya di depan pintu, Radhyn menghentikan langkahnya dan berbisik pada Venus "By the way, thanks ya." Mereka berdua pun masuk ke kamar Mars. Radhyn mencoba membangunkan Matahari yang selalu setia menemani Mars di sofa samping kasur Mars. "Ri, bangun ri. Liat siapa yang dateng. Ri, bangun dong." Matahari pun terperanjat kaget, dan segera bangun, dia bangkit dari sofanya dan mendekati Venus, "Gw kira loe ga dapet pesen dari gw dan ga bakal dateng kesini. Makasih ya nus, sekarang gw minta tolong ya." Tatapan venus yang tak pernah lepas dari Mars, menepuk pundak Matahari dan berkata "Serahin ke gw." Radhyn yang mencoba membangunkan Mars, ditarik oleh Matahari yang mengangguk sebagai isyarat. Venus yang entah membisikan apa ke telinga Mars, yang membuat Mars bangun seketika dan langsung memeluk Venus. Mereka terlihat seperti pasangan yang menjalani Long Distance Relationship sedang melepas rindu. Matahari yang hanya melihat dari pintu, tiba-tiba berkata pada Radhyn "Tugas gw kelar ya, cuma itu satu-satunya yang gw tau buat nyelamatin sahabat loe, tunangan Merkurius dan orang terindah yang pernah ada dalam kehidupan gw. Gw pamit ya." Radhyn hanya bisa menahan airmatanya yang hampir tumpah dan memeluk Matahari. Matahari pun pergi meninggalkan rumah Mars.
To be continue . . . . . . . . .